Skip to Content Transformation, documented Bogor : WIB
Teduh Technology Book consultation

Satu putaran mengikuti live

Sembilan puluh menit siaran. Yang tersisa biasanya nol.

Dari tripod sampai rolling door: komentar yang lewat, harga yang diucapkan, menit ketika ruangnya penuh, dan cabang lain yang live pada jam yang sama. Di tiap perhentian ada satu kalimat yang sudah sering kami dengar dari pemilik ritel — dan satu hal yang Teduh kerjakan supaya kalimat itu tidak perlu diucapkan lagi.

Perhentian pertama

Pukul tujuh malam, lampu ruang pamer masih menyala dan satu ponsel sudah berdiri di tripod. Siarannya akan berjalan sembilan puluh menit. Yang belum kelihatan adalah apa yang tersisa setelahnya. Mari ikut.

Di depan tripod

“Live jalan terus. Cabang mana yang siaran malam ini, saya tidak tahu.”

Satu halaman menampilkan setiap live yang sedang berjalan — akun mana, berapa penonton saat ini, dan apa yang baru saja dikatakan. Halamannya memperbarui dirinya sendiri tiap beberapa detik, jadi tidak ada yang perlu ditanyakan lewat grup. Satu layar di kantor, semua cabang di dalamnya.

Halaman Sedang Live

Di layar ponsel

“Tadi banyak yang tanya harga dan ongkir. Sekarang hilang semua.”

Komentar yang menunjukkan niat beli diangkat jadi daftar — dengan kata-katanya sendiri, produk yang ditanyakan, dan penandaan apakah sudah dijawab di udara. Yang belum dijawab muncul lebih dulu: orangnya bertanya dan tidak ada yang membalas, dan itu yang paling pantas dikejar besok pagi. Ditandai sudah dihubungi dengan satu ketukan.

Daftar yang bertanya

Di lengan sofa

“Bogor bilang dua koma delapan. Samarinda bilang dua koma lima. Saya tahunya dari pembeli.”

Apa yang diucapkan di depan kamera direkam jadi teks, dan janji yang keluar di dalamnya — harga, stok, ongkir — dikumpulkan terpisah dari obrolannya. Selisih antar cabang jadi sesuatu yang terbaca di halaman yang sama, bukan sesuatu yang dilaporkan pelanggan seminggu kemudian.

Transkrip & janji di live

Pukul delapan kurang sembilan

“Live-nya ramai. Ramainya menit ke berapa, tidak ada yang ingat.”

Jumlah penonton dicatat sepanjang live, dan puncaknya ditandai berikut jamnya. Bukan "234 penonton", tapi "234, pukul 19:51" — lalu Anda buka cuplikan layar pada menit itu dan melihat apa yang sedang dipegang di depan kamera. Ramai itu jadi sesuatu yang bisa diulang, bukan kebetulan.

Tren penonton & cuplikan

Pada jam yang sama, di kota lain

“Tiap cabang punya akunnya sendiri. Yang pegang juga sendiri-sendiri.”

Satu akun Instagram untuk tiap cabang, sebanyak yang Anda punya, live bersamaan sekalipun — satu tab per live, masing-masing dengan kuncinya sendiri. Anda buat login untuk tiap orang dan mencentang akun mana yang dia lihat. Kepala cabang melihat cabangnya; Anda melihat semuanya.

Akun & pengguna

Setelah rolling door turun

“Saya tidak mungkin menonton lima live sembilan puluh menit.”

Tidak perlu. Tiap live dibacakan kembali: tiga kalimat tentang apa yang terjadi, produk apa yang disebut, janji apa yang keluar, dan satu-dua hal konkret untuk live berikutnya. Ditambah satu video tiga puluh detik bersuara — enam momen berkecepatan asli dengan apa yang sedang dikatakan, di atas kurva penontonnya — yang bisa langsung dikirim ke grup pemilik.

Ringkasan & video rekap

Perhentian terakhir

“Habis live, yang tersisa cuma perasaan bahwa tadi ramai.”

Yang tersisa: angka yang bisa dibandingkan antar live dan antar cabang, transkrip lengkap, cuplikan layar tiap tiga puluh detik, dan sederet nama yang menunggu dihubungi. Besok pagi bukan dimulai dari mengingat-ingat — dimulai dari daftar.

Ruang Live

Sampai di sini

Perekamnya satu ekstensi Chrome, dipasang sekali. Live tetap dari ponsel seperti biasa; yang dibuka di komputer cuma halaman live-nya. Ekstensi ini hanya membaca — tidak pernah membalas atau memposting apa pun atas nama Anda.

Buka ruang Live

Akhir perjalanan

Live berikutnya sudah tercatat. Tidak perlu menunggu siapa pun.

Rp 300.000 per bulan · semua akun · berhenti kapan saja

Buka ruang Live